- By Admin
- 8 September 2023
- Artikel
PERAN DUTA BAHASA DALAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA DI PAPUA
Papua menjadi wilayah yang memiliki dimensi literasi yang sangat rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pusat penelitian kebijakan pendidikan dan kebudayaan yang menunjukkan ideks alibaca masyarakat di Indonesia, menempatkan Provinsi Papua menempati peringkat terendah. Dari beberapa dimensi indikator literasi, Provinsi Papua selalu berada pada tingkatan terendah, yaitu dilihat dari indeks dimensi kecakapan provinsi di Indonesia, indeks dimensi akses provinsi, indeks dimensi alternatif provinsi, dan indeks dimensi budaya. Hal ini karena berdasarkan sensus nasional, tingkat buta aksara di Provinsi Papua mencapai 21,9%. Secara nasional, buta aksara masih menjadi masalah serius di Indonesia. Menurut data UNESCO, pada tahun 2021, sekitar 27,7 juta penduduk Indonesia masih buta aksara. Hal ini merupakan masalah serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah dengan dibantu seluruh rakyat Indonesia.
Salah satu cara untuk mengurangi angka buta aksara adalah dengan memperkuat pendidikan. Dalam upaya pembangunan masyarakat, pemerintah terus menggencarkan upaya pendidikan dalam berbagai sektor, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Di wilayah Papua sendiri, sangat diakui ketersediaan sarana pendidikan beberapa waktu ini, sudah menjangkau wilayah-wilayah terkategori 3 T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Hal ini dibuktikan dengan tersalurkannya buku-buku bacaan cerita anak yang dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui upaya Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.
Namun, apalah artinya buku-buku tersebut kalau ternyata masih banyak anak-anak yang buta aksara.
Dalam upaya mengurangi angka buta aksara di Indonesia, peran duta bahasa sangat penting. Duta bahasa dapat membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa, meningkatkan kualitas pendidikan bahasa, mendorong penggunaan bahasa yang benar dan baik, meningkatkan akses ke materi pembelajaran bahasa, dan meningkatkan keterampilan berbahasa masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dan perhatian dari pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat peran duta bahasa dalam mengurangi buta aksara di Indonesia.
Pemilihan duta bahasa yang merupakan program rutin Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dapat menjadi salah satu solusi dalam penyediaan relawan yang memahami masalah kebahasaan untuk menangani pemberantasan buta aksara. Generasi muda yang terpilih dalam ajang ini telah dibekali dengan materi kebahasaan dan peran mereka di masyarakat ketika menyandang seorang duta bahasa.
Beberapa peran yang dapat dilakukan duta bahasa dalam mengurangi buta aksara antara lain, meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa. Duta bahasa dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa dan memotivasi mereka untuk belajar bahasa dengan lebih serius. Duta bahasa juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan bahasa. Duta bahasa dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan bahasa dengan memberikan pelatihan dan bimbingan kepada guru dan siswa. Hal lain yang dapat dilakukan duta bahasa, mendorong penggunaan bahasa yang benar dan baik, duta bahasa dapat mendorong penggunaan bahasa yang benar dan baik dengan memberikan contoh dan mengedukasi masyarakat tentang tata bahasa dan kaidah kebahasaan yang benar. Untuk meningkatkan akses ke materi pembelajaran bahasa, duta bahasa dapat membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap materi pembelajaran bahasa dengan menyediakan buku-buku dan sumber daya pembelajaran bahasa yang berkualitas. Dalam meningkatkan keterampilan berbahasa, duta bahasa dapat membantu meningkatkan keterampilan berbahasa masyarakat dengan memberikan pelatihan dan bimbingan dalam berbicara, membaca, dan menulis.
Di Provinsi Papua, sejak terbentuknya Ikatan Duta Bahasa (IKADUBAS) Papua, ada beberapa program yang sudah dilaksanakan terkait dengan upaya pemberantasan buta aksara. Program-program tersebut merupakan program kolaborasi dengan pihak-pihak yang menangani masalah literasi.
Program penanganan buta aksara terbagi dalam program jangka pendek dan program jangka panjang.
1. Program jangka pendek
⦁ menjadi relawan pengajar di setiap komunitas literasi yang ada di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Beberapa anggota Ikadubas Papua, dalam dua kali seminggu mengajar di beberapa taman baca yaitu di taman baca Habis Gelap Terbitlah Terang Cigombong Kota Raja, taman baca Elim Padang Bulan, taman baca Lembah Yordan Organda, taman baca Imanuel Kamp Wolker, dan beberapa taman baca lain.
⦁ membuat modul-modul sederhana pembelajaran baca, tulis, hitung, untuk dibagikan pada setiap komunitas literasi
⦁ melakukan pendampingan pengetahuan membaca untuk anak-anak yang sudah SMP, SMA, bahkan mahasiswa namun belum bisa membaca. Aktifitas ini biasanya atas permintaan guru atau dosen.
2. Program jangka panjang
⦁ membentuk komunitas literasi binaan. Sejauh ini sudah ada enam komunitas literasi binaan yang terbentuk.
⦁ melakukan pembinaan terkait program kegiatan literasi di setiap komunitas literasi
Dengan adanya relawan literasi Ikatan Duta Bahasa Papua, diharapkan masalah pemberantasan buta aksara di Papua bisa ditangani sedikit-demi sedikit, seperti pepatah mengatakan dikit-dikit lama-lama menjadi bukit. Semangat yang ditunjukkan relawan literasi duta bahasa Papua banyak mendorong beragam elemen masyarakat untuk bahu-membahu mengatasi buta aksara yang menjadi penyakit kronis pembangunan ini.
Literasi di Papua masih berkutat pada literasi dasar yakni literasi baca tulis. Diperlukan semangat yang segar dari para generasi muda. Pemberantasan buta aksara selalu menjadi program populer yang digaung-gaungkan pemerintah, tapi entah kenapa untuk penanganannya di Papua terlihat seakan tidak bergerak alias jalan ditempat. Semoga semangat para duta bahasa dalam hal pemberantasan buta aksara di Papua bisa mendorong berbagai pihak untuk lebih serius menangani masyarakat di Papua yang masih buta aksara.




